Pages

Monday, 4 April 2016

Lika-liku Kehidupan Andy Noya


Judul buku    : Andy Noya : Kisah Hidupku
Penerbit         : Kompas
Penulis          : Robert Adhy Ksp
Terbit              : Agustus 2015
Tebal              : 436

Kehidupan serba pas-pasan dari satu kamar ke kamar sempit lainnya merupakan kehidupan yang dialami Andy Noya di masa lalu. Jati dirinya dibentuk dengan berbagai pengalaman yang ditorehkan lingkungan sekitarnya. Ada yang manis, ada yang pahit, ada yang berbuahkan kebanggaan, ada juga penyesalan. Namun, tanpa lika-liku kesukaran masa lalunya, tidak akan ada seorang Andy Noya seperti sekarang ini.
Pada tahun 1968, memiliki darah campuran Belanda bukan suatu hal yang membanggakan. Walaupun berefek wajah yang tampan dan kulit yang putih, Andy jadi sulit bergaul. Anak-anak yang tinggal di sekitarnya, seringkali me-bullynya baik secara kata-kata maupun fisik. Bahkan, ia juga pernah dipukuli oleh orang yang kakinya cacat dengan tongkat. Pokoknya, pada masa itu sangat sulit Andy bisa bergaul dengan lingkungan sekitarnya.
Andy juga pernah tidak naik kelas. Saat itu ia sedang dititipi di rumah seorang teman ibunya, sedangkan ibunya tinggal di rumah lain. Minimnya pengawasan dari orang dewasa, mengakibatkan dirinya dan Gaby, kakaknya sering bolos sekolah. Nilainya yang tidak mencukupi di saat itu, membuat ia tak bisa naik kelas.  
Itu hanyalah satu dari kenakalan Andy di masa kecil. Kenakalannya memuncak setelah ia tinggal di Jalan Cisadane dan bertemu dengan geng 3 bersaudara. Bukan sebatas kenakalan anak kecil, melainkan sudah bisa dianggap kriminal karena berhubungan dengan pencurian. Andy jadi tambah malas bersekolah, bahkan pulang ke rumah pun malas. Saat itu Gaby pernah berpikir Andy akan menjadi penjahat saat dewasa.
Awalnya, Andy memang terpaksa melakukan hal-hal tersebut. Namun, lama kelamaan hal tersebut menjadi rutinitas sekaligus wujud kekecewaan mengenai anggapan dirinya terhadap ibunya yang terlalu sibuk bekerja hingga kurang memperhatikannya. Dibalik itu semua, justru ibu Andy sebenarnya sangat menyayanginya. Untuk membujuk anak laki-lakinya itu, ibu Andy ‘menyogok’ Andy agar pulang kerumah dengan cara membelikannya sepeda mini. Hal tersebut ternyata berhasil, semenjak dibelikan sepeda mini dan menemukan kegemaran barunya yaitu menggambar, Andy akhirnya menjadi anak rumahan dan tidak bergaul dengan geng nakal tiga bersaudara lagi.
Setelah itu, Andy pindah ke sebuah kota yaitu Malang. Ia bersekolah di sekolah katolik, Sangtimur. Di sinilah titik balik yang Andy rasakan. Selain nilai-nilai pengajaran yang diajarkan oleh para suster yang membentuk karakternya, ia juga bertemu dengan Ibu Ana, seorang guru yang memotivasi dirinya menjadi seorang wartawan di tengah-tengah kegagalannya. Semenjak saat itu, Andy bertekat bahwa dirinya harus menjadi wartawan.
Memasuki umur remaja, Andy pindah ke Jayapura. Di tempat itu ia tinggal berdua dengan ayahnya dan bersekolah di sebuah sekolah teknik. Di sana ia pernah mengikuti lomba menulis. Walaupun tak menang, merupakan suatu kebanggaan tulisannya didiskualifikasi karena dianggap anak teknik tak mungkin menulis dengan tulisan sebagus itu. Jayapura juga sebuah kota yang membuat keluarganya utuh kembali. Sewaktu ia kecil, ayah dan ibunya pernah berpisah. Di kota inilah mereka kembali bersatu, walaupun tak lama setelah itu ayah Andy meninggal di pangkuannya.
Setelah itu Andy menetap di Jakata. Andy menyelesaikan SMA-nya di Jakarta dan kemudian menempuh kuliah di Sekolah Tinggi Publistik. Sebenarnya, ia tak boleh menempuh pendidikan di tempat itu karena ia berasal dari sekolah teknik. Namun, berkat usaha ibunya memohon belas kasihan dari petinggi sekolah tinggi itu, akhirnya ia dapat menempuh pendidikan di sekolah dambaannya.
Masa kuliahnyalah yang kemudian menjadi pintu gerbang Andy dan dunia wartawan. Dimulai mengikuti magang di sebuah proyek penerbitan buku Apa & Siapa Orang Indonesia sebagai reporter, Andy belajar banyak. Setelah itu ia berkecimpung di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia, Majalah Matra, surat kabar Media Indonesia, dan pada akhirnya menjadi Pemimpin Redaksi di Metro TV serta pembawa acara Kick Andy. Di dunia ini jugalah yang akhirnya mempertemukan Andy dengan sang istri yang sangat pengertian, juga Surya Paloh, atasannya yang sangat mempercayainya.
Pada masa puncaknya, Andy merasa ia berada pada titik jenuh. Segala hal sudah berhasil ia capai, tetapi itu semua tidak cukup. Ia merasa dirinya harus lebih berdampak lagi bagi orang lain, terutama rakyat-rakyat miskin sepertinya dulu. Akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti sebagai Pemimpin Redaksi Metro TV dan membuat Kick Andy Foundation.
Menurut saya, buku ini sangat bagus. Selain dari kata-katanya yang mudah dicerna, buku ini juga mendidik. Salah satunya dengan adanya penceritaan mengenai sejarah Indonesia, yaitu pada saat Zaman penjajahan, orde lama, orde baru, pembredelan beberapa media cetak, hingga masa-masa masyarakat Indonesia sudah merdeka dan mampu mengemukakan pendapatnya secara bebas. Kemudian, ada juga cerita mengenai legenda seperti Lutung dan Sam Pek Eng Tay yang ditampilkan lewat kesenian Indonesia, ludruk. Pengetahuan-pengetahuan mengenai benda seperti Gramophone juga tak terlewatkan ditampilkan.
Di sisi lain, buku ini juga tidak membosankan. Banyak kisah-kisah pribadi dari Andy Noya yang mampu membuat pembaca senyum-senyum sediri, kesal, kecewa, bahkan terenyuh. Seperti contohnya ia menceritakan tentang bagaimana ia bertemu dengan cinta monyet dan cinta sejatinya, mengenai teman baiknya meninggal, kedua orangtuanya, bahkan juga kakak-kakaknya, amarahnya terhadap orang kaya yang jahat dan geng tiga bersaudara, serta kehidupannya di masa-masa memimpin redaksi beserta rintangan di dalamnya.
Hanya saja, alurnya yang terlalu sering maju-mundur membuat pembaca terkadang bingung dengan urutan kejadian. Pemakaian beberapa kata yang tidak lazim dalam bahasa Indonesia juga seharusnya dijabarkan artinya. Contohnya adalah ngeremo dan ngoko.
Saya kagum dengan pribadi Andy Noya yang walaupun tumbuh dari keluarga yang kekurangan secara ekonomi, integritas dan kepercayaan dirinya tak pernah lekang dari dirinya saat tumbuh dewasa. Ia mampu melakukan apa yang di matanya benar, walaupun tak semua orang melakukan kebenaran tersebut. Dalam mengemukakan pendapat, ia juga tak ragu-ragu walau terkadang harus menentang keputusan atasannya sendiri. Ia juga tak menyesal dengan memberhentikan dirinya sebagai pemimpin redaksi dan beralih dengan beramal kepada orang yang kurang mampu. Tak seperti kacang yang lupa pada kulitnya, ia tak pernah melupakan keluarganya. Kini, ia mengurusi serta menyekolahkan anak-anak dari kedua kakaknya yang telah meninggal.
Selain Andy Noya, saya juga sangat menyukai ibu dari Andy. Ditengah-tengah kesulitan hidup harus berpisah dengan suami dan kekurangan uang, ia selalu berusaha menghidupi anak-anaknya. Ia selalu bersabar menghadapi segala permasalahan dan berserah kepada Yang Maha Kuasa. Contohnya ketika Gaby, kakak dari Andy terkena polio. Ia mendoakannya terus-menerus sampai akhirnya terjadi mujizat kesembuhan.
Andy begitu beruntung, walaupun kehidupannya tak mudah, ia selalu dikelilingi oleh keluarga yang begitu mengasihinya, termasuk istrinya. Dalam berbagai kesulitan dan ketidakmapanannya di masa muda, sang istri tak pernah meninggalkan Andy. Bahkan, ia selalu membantu sebisanya. Oleh karena begitu percayanya kepada Andy, sang istri mengatakan bahwa ia selalu mendukung apa yang menjadi keputusan Andy.
Selain keluarganya, orang lain yang cukup sering ia bicarakan dalam bukunya adalah Surya Paloh. Walaupun tampak tegas dan keras, sebenarnya Surya Paloh memiliki sikap yang sangat peduli kepada para karyawannya. Ia selalu berusaha menjaga citra karyawan-karyawannya di mata orang lain dan tidak ragu dalam memberikan kesempatan kedua bagi orang lain. Surya Paloh juga seseorang yang ambisius dengan jabatan di kursi politik dengan berbagai kampanye yang ia lakukan. Walaupun sering berselisih pendapat dengan Andy, pada akhirnya Surya Paloh selalu memaafkan keberanian Andy yang terkadang melewati batas otoritasnya.
Moral yang dapat kita ambil dari buku ini sangat banyak, kita harus gigih dalam berjuang terhadap apa yang kita cita-citakan, memiliki prinsip yang benar dan teguh dalam kehidupan pasti akan berbuahkan kebaikan, tidak mudah terpengaruh oleh kenikmatan-kenikmatan yang menghanyutkan, selalu bersyukur terhadap keadaan kita saat ini, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, serta rela berbagi kepada sesama.

Karya :
Nama : Yuliana Kirana
Prodi : Ilmu Komunikasi, Jurnalistik
Nomor : 081219089838
E-mail : yulianakirana96@gmail.com

No comments:

Post a Comment